Sabtu, 18 Juni 2011

LAWAS, PUISI LISAN TRADISIONAL (bagian pertama)

Lawas (puisi lisan tradisional Sumbawa) yang merupakan cermin jiwa anak-anak, getar sukma muda-mudi dan orang tua.

Mengumandangkan lawas itu tergantung pada waktu lawas itu ditembangkan. Ulan atau langgam lawas itu terbagi atas tiga bagian. Kalau ditembangkan di padi hari dikenal dengan nama ULAN SIYEP (pagi hari), bila dikumandangkan saat teriknya matahari dikenak dengan ULAN PANAS ANO dan ditembangkan dikala senja hari dikenal ULAN RAWI ANO.

Menembangkan lawas itu ada temung (lagu/langgam). Di Sumbawa Temung (lagu) lawas ini dikenal ada dua, disebelah timur Sumbawa dikenal dengan TEMUNG ANO SIYEP dan disebelah barat dikenal dengan TEMUNG ANO RAWI.

Pembagian lawas pada umumnya terdiri dari lawas tau ode (anak-anak), lawas taruna dadara (muda mudi), dan lawas tau loka (orang Tua).

Lawas Tau ode (anak-anak)

Lawas tau ode mengedepankan tentang dunia anak-anak yang penuh kocak. Berikut ini contoh sebait lawas anak-anak.

Ma tunung adi matunung

Meleng tunung ku beang me

Jangan jadi kembo kopang

Terjemahan bebasnya :

Mari tidur marilah tidur

Bangun tidur ku beri nasi

Campur susu kerbau yang sehat

Lawas Taruna Dadara (Muda Mudi)

Lawas taruna dadara (muda mudi) intinya berkisar sekitar perkenalan, percintaan, berkasih kasihan, perpisahan, beriba hati.

Ketika bertemu antara jejaka dan gadis ketika menanam atau disaat memotong padi di sawah, dikala menonton keramaian karapan kerbau atau permainan barempuk antara keduanya terjadi pertautan batin, tapi mereka belum berkenalan masih dalam pase memendam perasaan, maka telah terjadi kelumrahan seperti tercermin lawas berikut :

Ajan sumpama ku lalo

Ku tarepa bale andi

Beleng ke rua e nanta

Terjemahan bebasnya

Seandainya aku bertandang

Mampir di rumah adinda

Adakah gerangan belas kasihan

Ketika muda mudi berada di alam romantik rasa cinta kasih memenuhi sukmanya untuk melahirkanisi hatinya dinyatakan dalam lawas cinta kasih sebagai berikut :

Nanmo lalo kau surat

Bawa salam doa kaku

Na’ mole lamin nonda ling

Tenri kalom ko kertas

Kusurat kewa ai mata

Sia baca kewa katawa

Terjemahan bebasnya

Malayanglah kau duhai surat

Antarkan salamsejahteraku

Jangan pulang tanpa pesan

Jatuhlah kalam di kertas

Ku gores sembari cucuran air mata

Ku baca dengan tawa riang

Manakala muda mudi telah berkenalan dalam saling cinta mencintai maka tersembullah perasaan kasih dan sayang tiada taranya. Pemuda menyatakan kasihnya dalam lawas berkasih-kasihan yang penuh romantik.

Pitu tin ku layar barat

Haram untung ku lako lin

Le lema sia si ku asa

Lamin tetap mo pang sia

Bose sangangkang lit rea

Na’ beang bilu lako lin

Terjemahan bebasnya

Tujuh tahun mengarungi musim

Haram jodoh ku pada yang lain

Cepat dan lamban cinta kupasrahkan kepada mu

Jika pendirian sudak mantap

Kayuhkan dayung arah samudra

Jangan berpaling pada yang lain

Dalam dunia muda mudi ada pertemuan yang mengasikkan namun dibalik itu mustahil tidak terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan misalnya saling cemburu, tuduh menuduh, curiga mencurigai antara yang satu dengan yang lain. Kalau sudah memuncaknya cemburu tiada saling percaya lagi akibatnya timbulnya keputusan yang diakhiri dengan kegagalan cinta. Contoh lawas perpisahan yang sangat memilukan hati.

To gili benru kadadi

Lis pio barema ngibar

Dapat palabu baseka

Saling buya do mo tokal

Terjemahan bebasnya

Adalah pulau baru menjelma

Sekawan burung serempak mengepak sayap

Tiba di pelabuhan lalu berpisah

Saling cari telah berjauhan tempat

Perpisahan sudah barang tentu menimbulkan kesedihan yang memilikan hati (beriba hati). Lawas iba hati dilahirkan dengan perasaan sedih derita dan air mata.

Benan mo sia kaka e

Tetap mo bangka ya layar

Aku po gila salingong

Terjemahan bebasnya

Bahagialah kanda kini

Perahu yang ditumpangi sudah pasti

Diriku di rundung bimbang

(Dea Ranga)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar