Selasa, 12 April 2011

PETANI DESA MOYO PANEN PADI DI TENGAH HUJAN DAN BANJIR


Sudah satu minggu lebih para petani di kecamatan Moyo Hilir disibukkan dengan masa panen yang mereka nanti-nantikan. Setelah 3 bulan lamanya mereka merawat padi-padi di sawah, dengan penuh harapan para petani menanti masa panen ini. Namun tak disangka, padi-padi yang sudah mulai menguning diterjang hujan dan banjir besar.

Di beberapa sawah yang ada di kecamatan Moyo Hilir, rata-rata panen padi diadakan secara serempak. Salah satunya di Sawah (orong) Rea, Orong Telaga, Orong Masin, Orong Pari, dan Orong Serading. Kesemua sawah tersebut diairi oleh air irigasi dari dua bendungan yaitu Bendungan Mamak yang mengairi orong pari seluas 500 Ha dan bendungan batu bulan yang mengairi Orang Rea, Orong Masin, Orong Telaga, Orong Serading, dan Orong Sabeta seluas 1500 Ha.

Sejak awal masa panen padi, hujan sudah mengguyur kecamatan moyo hilir, hujan deras yang disertai angin kencang setiap harinya membuat petani khawatir dengan keadaan ini. Bagaimana tidak, harapan satu-satunya mereka untuk menafkahi keluarga harus dihadapkan dengan masalah cuaca yang bisa membuat hasil panen padi menjadi buruk bahkan rusak, sementara biaya produksi yang mereka keluarkan lumayan besar bahkan para petani berani meminjam modal (berhutang) kepada para pemilik modal besar demi menghasilkan padi di sawah mereka.

Ironisnya lagi, untuk mendapatkan “PUPUK BERSUBSIDI” saja sangat sulit. Bagaimana tidak, dari beberapa pengepul pupuk yang ada di kecamatan moyo hilir kebanyakan tidak mau menjual pupuk dengan pembayaran cash menggunakan rupiah. Tetapi pupuk yang mereka simpan baru diberikan kepada para petani kalau petani mau membayarnya nanti dengan 50 kg padi. Bisa dibandingkan harga yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi yang seharusnya Rp. 80 ribu/50 kg menjadi Rp 125 ribu/50 kg pupuk (50 kg gabah kering).

Tidak berhenti sampai disitu, kesulitan petani selalu saja ada. Salah seorang petani “Han” mengaku bahwa panen padi tahun ini sangat berbeda dengan panen padi sebelumnya. Panen padi tahun ini diadakan ditengah hujan besar dan banjir yang menggenangi areal persawahan. Beberapa petani merasa merugi pada panen tahun ini, karena saat panen padi-padi mereka terendam air sehingga kwalitas padi menjadi tidak bagus. Sebagian besar padi berubah menjadi berwarna hitam bahkan ada padi yang mulai tumbuh di dalam tumpukannya. Padahal untuk menyelesaikan panen padi biasanya membutuhkan waktu 3-4 hari saja namum saat ini sudah seminggu panen padi belum selesai tambahnya lagi. Tentu ini akan semakin menambah biaya produksi petani.

Kejadian yang sangat mengharukan juga terjadi di beberapa wilayah orong Sabeta Desa Moyo. Beberapa orang petani harus merelakan padi-padi mereka terseret air kokar (kanal). Menurut “Ibu Ati” salah seorang petani di desa moyo yang mendengar kabar tersebut mengatakan “ terdapat padi yang baru saja dipotong sampai dengan gabah yang sudah dimasukkan ke dalam karung ikut terbawa air bah dari kanal yang berada tepat membelah Orong Sabeta”. Bukan hanya itu, menurut pantauan kampung media “Gempar” air yang meluap dari kanal ini juga sering membuat jalan yang menghubungkan kecamatan moyo hilir dengan kota Sumbawa terputus hingga beberapa jam. Rata-rata tiga tahun belakangan ini, Tidak sampai satu jam saja kalau hujan mengguyur akan menyebabkan luapan air yang sangat deras. Air meluap ini juga yang merusak padi-padi di orong sabeta.

Entah ini musibah ataukah memang pengaruh dari perubahan iklim yang sangat drastis akhir-akhir ini. Namun kami tidak ingin derita ini semakin membebani petani dengan harga gabah yang sangat murah. Tercatat di beberapa pengepul gabah yang ada, harga gabah kering berkisar antara 250 ribu hingga 265 ribu perkwintal. Namun kalau gabahnya sedikit berwarna hitam atau basah karena terendam air tentu harga akan terpangkas hingga 230 ribu saja perkwintalnya.
Semoga tulisan ini memberikan kita rasa simpati, supaya kita pandai merasakan apa yang dirasakan orang lain.

jul: gempar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar